Ramadhan 1432 H bertepatan dengan Agustus 2011, di mana aku dan beberapa teman kantor berulang tahun. Kira-kira sudah sejak bulan Juli, kami yang berulang tahun pada bulan ini menginginkan sesuatu yang tak biasa. Kami ingin memanfaatkan momen ramadhan. Dari beberapa kali ngobrol saat makan siang menghasilkan keputusan bahwa kami akan mengadakan buka puasa bersama (bukber) di panti asuhan. Pilihan jatuh pada Panti Asuhan Muslimin karena lokasinya yang tidak jauh dari kantor.
Satu
Hari ke sekian pada musim yang hampir habis, senja mulai mencatat sebuah kisah tentangmu sebelum malam menggantikannya untuk beristirahat dalam naungan bulan yang malumalu.
Engkau sengaja berbaring dalam ruang remang cahaya dengan mata yang sesaat berkedip, dan saat yang lain terpejam dalam hitungan detik ditemani nafas yang tertahan untuk kemudian kau hempas perlahan. Kau bebaskan pikiranmu sebebas yang kau mampu, menelusuri detik perdetik ketika matamu terbutakan dan telingamu tertulikan oleh segala warna yang kau kira takpernah abuabu.
Ditulis dalam Diary | 2 Komentar »
Aku adalah segenggam pasir yang tekpernah lebih sendu dari tetesan embun, yang bertutur tentang aroma secangkir kopi panas ketika pagi belum sempurna menyambut datangnya matahari.
Aku adalah segenggam pasir yang takpernah lebih indah dari sebentuk diam yang lindap, yang menuliskan sebait sajak mewakili sebuah enggan dalam hasrat serupa garis bayang gelap yang gelapnya takpernah lebih hitam dari pekat.
Aku adalah segenggam pasir yang takingin terbakar panas matahari atau beku oleh dinginnya malam ketika kau ada, ketika kau tiada. Hadirmu hanyalah saat kau ada dan hilangmu hanyalah saat kau tiada. Antara ada dan tiadanya engkau bukanlah ada dan tiadanya diriku.
Aku ada dan memintamu ada…
Aku ada dan memintamu tiada…
Tapi engkau takkan pernah bisa memintaku untuk ada, untuk tiada…
Aku yang hanya segenggam pasir ini, takkan pernah kau temukan ketika aku telah membaur bersama pasirpasir di pantai..
Saat itulah…
Aku hilang…
Taklagi segenggam pasir…
Aku adalah sebuah rahasia… bagimu…
Jakarta, 4 Desember 2010
Ditulis dalam Diary | 2 Komentar »
Aku dan heningnya malam duduk berhadapan di atas sebuah batu besar pada tepian kali yang gemerincing airnya dapat menembus cahaya gemintang, dan menebar segar pada sang rembulan. Kutatap ia lekat sepekat dingin yang menggeliat diantara ruangruang penuh aroma entah.
Lalu ia tersenyum…
Tapi aku masih terdiam menatapnya, terlalu lama dan bisu. Tibatiba ia menyentuh pipiku hingga kutersadar air mataku telah meningkahi gemerincingnya air kali. Mengalir, menjauh hingga taklagi dapat kusentuh.
Ia masih saja tersenyum…
Sedang aku ingin merajamnya hingga taklagi bisa kueja dalam kata, dalam syair, dalam segala yang berupa makna. Aku ingin membakarnya, melahap abunya hingga taklagi bisa ia menertawaiku dalam senyumannya.
Tapi ia hanya sekeping hening yang menungguiku terkapar oleh luka di atas sebuah batu besar pada tepian kali yang airnya mengalir bersama air mataku.
Aku…
Dan hening…
Jakarta, 21 Maret 2011
Ditulis dalam Diary | Tinggalkan sebuah Komentar »
Bintang perasaannya taklagi bercahaya seperti lonceng tanpa denting
Dikumpulkannya perlahan semua yang terserak
Tapi sayang, kembali lalu berhamburan
Hingga dunia seperti tanpa bahasa tanpa suara
Kemanisan yang hampa mendatanginya diamdiam
Di jalanjalan putih yang diasingkan
Ia dicengkram rasa putus asa
Jembatan air matanya pecah di kelopak mata
Ketika langit membuka atapnya dan menurunkan hujan
Membawa angin sedih ke pangkuannya
Di rimba prasangka ia takluk dan bisu seperti paku
Menggali katakatanya ke arah kehilangan
Dan saat awan berlari pelan,
Saat mata berpendar bersama buncah rindu,
Ia tinggalkan langkahnya di simpang jalan,
Dalam labirin ….
Jakarta, 30 Oktober 2010
Ditulis dalam Puisi | Tinggalkan sebuah Komentar »
Di luar senja telah benarbenar turun dan matahari mulai kehilangan warna, pudar. Kubiarkan langkahku terhenti diantara apa yang kurasa, yang kuingin dan segaris ketakutan yang melingkariku. Semampuku ‘tuk pahami ini meski belum juga kudapati diriku berada diluar ketakutanku. Perih itu tak mungkin tak memelukku….
Aku terjerat dalam senja kataklismik saat gerimis belum habis melewati serentang penantian, mengguyuri tiap jengkal perjalanan pada senja beraroma. Senja tanpa aroma yang kuminta, senja dengan aroma yang ia suka. Lalu apa yang kukira sekaligus seharusnya tak kukira kini, bagai sayapsayap yang takpernah menerbangkanku. Dan aku masih di sini terperangkap dalam senja kataklismik, maka ijinkan aku pulang saat cahayaku mulai remang, saat energiku mulai hilang…
Jakarta, 26 Oktober 2010
Ditulis dalam Diary | 1 Komentar »
Hari masih pagi dan air langit sudah menyapa dengan deras yang ia suka, dengan lama yang ia mau. Sedang engkau terduduk di satu ruang dengan hanya menatap dindingnya yang di matamu berwarna luka.
Masih jelas diingatanmu ketika tibatiba kau disergap perih, lalu sedih mengikatmu tanpa ia bertanya kau mau atau tidak. Dan ia datang seperti hujan pagi ini, sederas yang ia suka, selama yang ia mau… tapi engkau tetap duduk dengan hanya menatap dinding yang di matamu berwarna luka.
“Kau mau terapung atau menyelam?”
Ditulis dalam Diary | Bertanda Curhat, sera-serbi | 4 Komentar »
Perempuan matahari terkapar
Seperti burung patah sayap
Tumbang…
Telah kulihat disana
Puisiku yang hilang
Terlukis sebagai luka
Maka aku berlalu…
:: Tak ingin cemburu
-Jakarta, 4 Oktober 2010-
Ditulis dalam Puisi | Bertanda Puisi | 1 Komentar »
Senja datang diamdiam
Mengendap…
Malampun hinggap
Segumpal rindu yang ragu
Berlarian diujung sayap angin
Lesat rambahi langit
Jelajahi gunung
Arungi laut
Tapi rinduku tetap meragu
Tak cukupkah bahasa tubuhku?
-Jakarta, 6 Juli 2010-
Ditulis dalam Puisi | Bertanda Curhat, Puisi | 1 Komentar »
Ketika angin laut beraroma garam dan awan berlari pelan
Ada bahasa jarak diantara kita
Ia memberimu isyarat…
Ia memberiku isyarat…
Meski hurufhuruf membisu takbersuara
Di garis wajah siang, kudengar bahasa kita
Berirama dengan gerimis yang menetes
Dari masamasa yang telah lama terpendam
Diam…
Lewat angin yang membawa pesan
Kubacai tiap hembusanmu
Lalu kudaki langit dengan kereta bersayap
Menemuimu…
: Rindu
-Jakarta, 11 Juli 2010-
Ditulis dalam Puisi | 2 Komentar »