Feeds:
Tulisan
Komentar

PUISIKU

Segaris jejak rindu di kepalaku
Bersorak girang di remang ruang
Aku bagai terhisap mantra
Haru pada waktu yang gagu
Hingga dalam katakata terbaring sedan
Dan puisiku tercekik di bibir muram
Tertusuk tombak kebingungan

Elang masa depan bersiap-siap terbang
Tapi arahku jalan tak pasti
Katakata takberbulan, angkuh dalam kemurkaan

Dengan petir luka ini kuusap
Maka berlalulah engkau sebagai sayapsayap patah
Agar taklagi ku direngkuh pasir kesepian
Seiring hadirmu pada ruang dan waktu

Puisiku……

- Jakarta, Mei 2009 -

CATATAN SENJA

(…dan terkadang kita perlu menghadirkan sesuatu untuk mengaburkan yang lainnya…)

**

Matahari tak pernah ingkar janji untuk setiap hari datang dan pergi. Angin juga tak pernah letih membawa semilirnya. Sedang sang waktu terus saja berganti hingga membawaku ke sini…pada perjumpaan, pada pertemanan denganmu.

Ini adalah satu dari sekian banyak warna hidupku pada segaris jejak rindu ketika ada sebuah rasa yang hadir mengetuk pintu hatiku dan membukanya. Masuk lalu mencari tempatnya sendiri…

Saat kutulis ini, bukan karena tak lagi bisa kukuasai rasa itu. Bukan juga ingin minta sesuatu darimu. Ini hanya sebuah pilihan. Laksana butir air yang berat, jatuh satu demi satu dari awan yang gelap hingga bisa kulihat birunya langit, kulihat bintang menari…

‘Terkadang kita perlu menghadirkan sesuatu untuk mengaburkan yang lainnya…’
Kupikir aku berhasil lakukan itu, tapi sepertinya tidak. Tiap kali bertemu denganmu, saat itulah kusadari kegagalanku. Menghadirkan dia ternyata tak juga mengaburkanmu…

Lalu aku berbincang pada cahaya. Katanya, tak perlu kuhabiskan waktu ‘tuk untai sangka tentang segala mungkin yang bergelayut dalam pikirmu setelah kau tahu yang kurasa. Cukup bagiku hilangnya awan gelap. Sedang akan kemana butir air itu melaju, biar dia sendiri yang memilih tempat ternyaman. Entah mengikuti angin yang berhembus, mengalir ketempat rendah atau meresap.…

(Jakarta, April 2009 )

AKKHHH…!!!

Sebentuk diam yang tercipta bukanlah sebuah perhentian. Lajunya takkan pernah kuusaikan meski entah warna apa yang akan tertinggal pada jejakjejaknya. Tak pula ku hendak menyuramkan segala kemungkinan yang hanya serupa jika. Biar pada pilihan itu sang waktu membawaku lumatkan segala kerikil, lompati setiap gelombang dan warnai sejuta pelangi.
Dan bila sebentuk jenggah tiba-tiba merasukiku, akankah semudah itu terpatahkan? Aku memang tak bisa hindari segalanya karena itulah jalanku. Bukan berarti kini keraguan menyerta pada langkah kakiku. Semata hasrat diri untuk sejenak berhenti agar lebih kencang berlari.

Akkhhh…!!! Sangat ingin aku berbagi…


Abdul Muis – Jakpus, 04 Maret 2009

Bangkit 2

Perempuan…
Kenapa mesti berduka bila kau terluka?
Daundaun hijau masih bersama kita
Pun puisi dan mimpi
Takperlu kau hisap perihmu serasa demi serasa
Atau berhenti membacai pasir waktu
Nyanyikanlah bahasa mata dalam senyum rekah
Bersama matahari yang belum rendah

Bukan..!
Bukan hendak kucampur kau dengan airmata
Hingga langit terasa sesak
Tapi hariharimu takpantas menjadi sempit dan lebam
Dan takperlu ada penghalang bagi terik siang

Oh perempuan pengeja bintang
Oh perempuan kepasrahan
Kemarilah..!
Biar kuraih kedua tanganmu
Dan kita tulis sejarah pada tiaptiap impian semesta

(Jakarta, 17 Desember 2008 )

Bangkit 1

Padamu hanya kukatakan
Aku adalah angin yang tibatiba bangkit menerbangkan lautmu
Agar taklagi tenggelamkanku
Meski alam di luar gelap dan pekat

Aku dan penaku dan tintaku
Mendatangimu bukan agar meleleh oleh panas yang kau cipta
Semata ‘tuk berkata
Kau hanya melintas dalam hidupku
Lalu meruap hilang di angkasa

(Jakarta, 16 Desember 2008 )

C E R M I N

Saat kita saling bertatap saling melirik
Bahkan saling membelakangi…

Saat kita samasama menjauh
Atau samasama mendekat

Menangis bersama tertawa bersama
Juga sekedar tersenyum oleh imaji yang menggoda hati

Kau dan aku
Dalam waktu dan ruang hidupku

(Jakarta, 16 Desember 2008 )

Menuju Cahaya

Pada mata yang bergetar
Pada rambut sehitam malam

Terus kutatap ia

Manikmanik keringat di keningnya menggelincir
Takhenti bersama langkah yang terayun
Menujuku…

”Mari mencari cahaya”

Dan kami berjalan dalam diam
Mencari cahaya…
Menuju cahaya…

(Jakarta, 16 Desember 2008 )

.

BILAKAH…

Bilakah kubisa
Menjadi udara dinginkan bara
Menjadi angin terbangkan perih
Menjelma cahaya yang takpernah terbendung luka

Aahh…
Betapa ingin kubisa
Miliki jiwa sedalam asa….

(Jakarta, 16 Desember 2008)
.

H A B I S

Cukup lama aku terpanggang diatas baramu dan digarami oleh lautmu. Panas dan perih. Kulit tubuhku takhanya melepuh, bahkan terkelupas dengan pasti. Perlahan, lalu yang tertinggal hanyalah kerangka yang kian lamapun akan menjadi abu. Kemudian datang angin mengangkat dan menggendong tubuh abuku, menerbangkannya entah kemana.
Lalu menjadi apa abu tubuhku bila angin ingin mengantarku kembali padamu? Pada panas baramu. Pada perih lautmu….

(Jakarta, 9 Desember 2008)

.

Putus Asa

Langit tumpahkan tangisnya lagi
Mencegat langkahlangkah yang tegap dan yang terseok
Yang cepat dan yang lambat

    : Hingga semua terhenti

Dan tekadnya tersaput pikiran pucat
Masih takberanjak
Diam kutuki malam

    : Hingga malam hanya serupa malam

(Jakarta, 9 Desember 2008)

Tulisan Sebelumnya »