Di luar malam beredar berteman gerimis tipis
Di laut ombak menepi membanting diri pada karang
Dan kapalkapal raungkan kembara hati karam
Isyaratkan sepetak gambaran jiwa mendung diujung tahun
Kala terobrakabrik oleh jabat oleh peluk yang mesti terlepas
Tersekat…
Segala kisah usah terasingkan
Bila berupa tangis atau goda
Terlebih tawa dan sukacita
Karena tegursapa itu biar tetap ada
Saat terdampar di pulaupulau kesendirian
Oh…takmudah wariskan kata
Bila yang [...]
Arsip untuk November, 2008
Perpisahan
Diposkan dalam Puisi pada November 24, 2008 | 18 Komentar »
Kepada Kawan Yang Akan Pergi
Diposkan dalam Puisi pada November 19, 2008 | 7 Komentar »
—-
Kepada Kawan Yang Akan Pergi
Oleh : Ratnaningsih DH
Ingatkah engkau pada hari penuh tawa,
Ingatkah engkau pada suasana hangat saat bersama,
Ingatkah engkau kala kita menangis berdua,
Ingatkah engkau terkadang kita bergosip belaka,
Ingatkah engkau pada kawan yang menggoda,
Ingatkah engkau pada hati yang kecewa,
Jika tidak,
Ingatlah seorang kawan yang menunggumu untuk ingat
(dalam harihari terakhir sebuah kebersamaan selama 3 tahun: makasih Ratna…)
PELANGI
Diposkan dalam Serba-serbi pada November 11, 2008 | 15 Komentar »
Setiap detik lahir menelan sang waktu hingga siang pun tiba menggantikan pagi yang takhangat. Sekian lama dan sepantun suara takjua singgahi kita. Hujan turut juga tiba. Mengurung kita tetap tinggal meski waktu takikut terkurung hujan, ia terus saja melaju. Tak peduli pada kita yang masih saja saling membisu. Kau telan sendiri katakatamu. Aku telan sendiri [...]
Kos Baru
Diposkan dalam Serba-serbi pada November 6, 2008 | 8 Komentar »
Ruangan ini berukuran 3 x 3,5 m dan berada di lantai 2. Dindingnya berwarna hijau, memiliki dua pintu. Satu pintu masuk dan satu pintu untuk ke teras belakang (tapi sebenarnya justru menghadap ke depan. Bingung ya…?). Terhitung sejak Minggu, 26 Oktober 2008, inilah kos baruku. Ada banyak bunga di sepanjang pagar teras belakang ini. Tetumbuhan [...]
Bohong
Diposkan dalam Puisi pada November 5, 2008 | 5 Komentar »
Sepenggal sanggahmu lagilagi berkobar
Bawa gemuruh
Taklagi percaya
Karena semua tlah biasa
Sepenggal sanggahmu..
Ah…muak kudengar
Cukup begini saja
: Selamat tinggal !!
(Jakarta, 29 Oktober 2008 )