Cukup lama aku terpanggang diatas baramu dan digarami oleh lautmu. Panas dan perih. Kulit tubuhku takhanya melepuh, bahkan terkelupas dengan pasti. Perlahan, lalu yang tertinggal hanyalah kerangka yang kian lamapun akan menjadi abu. Kemudian datang angin mengangkat dan menggendong tubuh abuku, menerbangkannya entah kemana.
Lalu menjadi apa abu tubuhku bila angin ingin mengantarku kembali padamu? Pada panas baramu. Pada perih lautmu….
(Jakarta, 9 Desember 2008)
.
semoga cepet kembali cintanya
emang enak kalo buat puisi pas hatinya lagi nggak seneng hehehehehehehe
setelah kau menjadi abu dan datang padaku,aku hanya bisa merasakan kehadiranmu di jiwaku.
Oh Fitri…
jangan khawatir kawan,
kau tak akan pernah habis…
abumu bereinkarnasi menjelang dharmamu…
selalu mengarah ke tempat yang lebih baik…semoga…
emha?
rangkaian kata yg menakjubkan…
bila jadi abu pun harus berubah, berubahlah menjadi udara
karena jiwajiwa udara yang terhimpun, kelak akan menjelma angin
dan angin yang berhembus, pasti
bisa jadi kan mendinginkan bara api
bisa mungkin kan menerbangkan perihnya lautan
atau menjelma saja cahaya
sebab cahaya takpernah terperihkan,
takpernah terbendung….
selama jiwa sedalam asa,
Fitri yang baik,
Terima kasih selalu atas kunjunganmu yang sering dilakukan pada blogku.
Aku baik, sehat walafiat. Semoga Friti pun demikian.
Dalam jagat puisi, kita mencoba bercermin diri. Dalam jagat puisi, kita menemukan hakekat kehidupan.
Teruslah menulis, teruslah membagi rasa da pikir.
Salam,
ABE