(…dan terkadang kita perlu menghadirkan sesuatu untuk mengaburkan yang lainnya…)
**
Matahari tak pernah ingkar janji untuk setiap hari datang dan pergi. Angin juga tak pernah letih membawa semilirnya. Sedang sang waktu terus saja berganti hingga membawaku ke sini…pada perjumpaan, pada pertemanan denganmu.
Ini adalah satu dari sekian banyak warna hidupku pada segaris jejak rindu ketika ada sebuah rasa yang hadir mengetuk pintu hatiku dan membukanya. Masuk lalu mencari tempatnya sendiri…
Saat kutulis ini, bukan karena tak lagi bisa kukuasai rasa itu. Bukan juga ingin minta sesuatu darimu. Ini hanya sebuah pilihan. Laksana butir air yang berat, jatuh satu demi satu dari awan yang gelap hingga bisa kulihat birunya langit, kulihat bintang menari…
‘Terkadang kita perlu menghadirkan sesuatu untuk mengaburkan yang lainnya…’
Kupikir aku berhasil lakukan itu, tapi sepertinya tidak. Tiap kali bertemu denganmu, saat itulah kusadari kegagalanku. Menghadirkan dia ternyata tak juga mengaburkanmu…
Lalu aku berbincang pada cahaya. Katanya, tak perlu kuhabiskan waktu ‘tuk untai sangka tentang segala mungkin yang bergelayut dalam pikirmu setelah kau tahu yang kurasa. Cukup bagiku hilangnya awan gelap. Sedang akan kemana butir air itu melaju, biar dia sendiri yang memilih tempat ternyaman. Entah mengikuti angin yang berhembus, mengalir ketempat rendah atau meresap.…
(Jakarta, April 2009 )
biarlah air itu mencari jalannya sendiri, tak kan lepas dari kodratnya
waaa bahasanya puitis bgt
Jika rasa yang kau punya harus selalu metafora, bagaimana dengan ingin mu yang ingin menjejak nyata ?. Mengapa harus menyimpan rahasia dan kata bahasa yang tak pernah menjelaskan inginmu ?.
Bukankah akan sangat indah bila rasa itu mulai mengambang sempurna, dan senyum mu mulai mengembang sempurna ?.
Maukah kau lepaskan dan bebaskan kata rasa itu ?, karena dengan kebebasan kau tak akan lagi bisa dikuasai.
salam
seperti yg kurasakan…tulisanmu indah banget teman.
oah sudah lama tak mampir sini, apa kabar Fitri
bebaskanlah…
hingga habis…
tanpa
sisa
…
biarkan rasa itu mengalir. seperti air sungai yang meninggalkan jejak di tiap kelokannya.
kelokan kehidupanmu
salam kenal
Halo Fitri,
Lama aku tak nonggol! Kini aku hadir lagi….
Selamat berkarya..
Senja senantiasa mengajak kita untuk duduk merenung..
Senja dengan kemilauan mentari memantulkan cahaya..
Salam dari Dili, Timor-Leste!
ABE
cahayaku tak bisa kau abaikan
mesti kau hadirkan segala tembok penghalang
akan ada yang selalu membayang
membaca psotinganmu ini,bgtu dahsyat rasa dlm dirimu,sobat.
buncahkanlah!
salamku
cinta tak mungkin bohong
lama tak update ya
karena rasa tak bisa dimanipulasi.
hi fitri kemana aja sih jarang nongol
ow cintaku.. duh puitis banget… mpe merinding..
hai, puisi tentang apa
adakah catatan senjamu dibawa terbang unggasunggas yang pulang…???
atau hanya menjadi angin yang meneriakkan sepi…
Bersilaturahmi kepada semua teman-teman
Minal Aidin Wal Faizin, Mohon maaf lahir bathin.