Hari masih pagi dan air langit sudah menyapa dengan deras yang ia suka, dengan lama yang ia mau. Sedang engkau terduduk di satu ruang dengan hanya menatap dindingnya yang di matamu berwarna luka.
Masih jelas diingatanmu ketika tibatiba kau disergap perih, lalu sedih mengikatmu tanpa ia bertanya kau mau atau tidak. Dan ia datang seperti hujan pagi ini, sederas yang ia suka, selama yang ia mau… tapi engkau tetap duduk dengan hanya menatap dinding yang di matamu berwarna luka.
“Kau mau terapung atau menyelam?”
Sebuah suara yang entah dari mana datangnya membuyarkan kebisuanmu. Kau cari namun tak kau temui sosok lain dalam ruanganmu. Mungkin suara itu dari dinding yang sedari tadi hanya kau pandangi. Dinding yang kau kira berwarna luka itu semakin perih oleh tatap matamu.
“Jika kau tetap ingin terapung, teruslah terapung di laut kesedihanmu dan ombak akan mengombang-ambingkan tubuhmu, membenturkanmu pada sang karang, mendamparkanmu. Membiarkanmu sendiri dengan segala luka di tubuhmu, di hatimu, diwaktumu.”
“Terapung akan mengantarmu sampai pada pulau kesedihan yang dikelilingi oleh laut kesedihan. Maukah kau terapung?”
“Jika engkau tidak ingin terapung, maka menyelamlah!”
“Selamilah hingga ke dasar kesedihanmu, tinggallah di sana dan rasakan apa yang ada dalam hatimu, pada tubuhmu. Rasakan hingga engkau benarbenar mengerti bagaimana rasanya berada pada dasar dari laut kesedihanmu.”
“Jika kau suka, carilah tempat yang nyaman dan tinggallah di sana.”
“Jika kau tak suka, jika kau tak nyaman berada pada dasar di laut kesedihanmu, maka keluarlah! Tinggalkan dasar itu, berenanglah ke atas, temukan permukaan laut kesedihanmu dan menepilah!”
“Pulau di laut kesedihanmu tidak hanya satu dan tidak pula bernama pulau kesedihan. Pilihlah pulau yang kau mau, tinggallah di sana. Kau bisa merasakan semilir yang membelai tiap helai rambutmu atau hangat yang membalut kulitmu.”
“Sekarang, kau tetap ingin terapung atau menyelam?”
—
Air langit belum habis dan kau masih saja duduk dengan hanya menatap dinding yang di matamu masih berwarna luka… Engkau diam membisu…
Jakarta, Sabtu/ 9 Oktober 2010
Jam 08.10 hujan masih belum berhenti..
sekedar meninggalkan jejak disini
lantas mana yang kau pilih? terapung atau menyelam? bukankah “Pulau di laut kesedihanmu tidak hanya satu dan tidak pula bernama pulau kesedihan. Pilihlah pulau yang kau mau, tinggallah di sana. Kau bisa merasakan semilir yang membelai tiap helai rambutmu atau hangat yang membalut kulitmu.”
hmmmm nikmatilah kelembutan balaian-NYA dan kehangatan kasih sayang-NYA
hiks…hiks…iya karena kesedihan hanyalah salah satu jalan menuju kelembutan dan kehangatanNya…
hangat dalam kesepian…