Aku dan heningnya malam duduk berhadapan di atas sebuah batu besar pada tepian kali yang gemerincing airnya dapat menembus cahaya gemintang, dan menebar segar pada sang rembulan. Kutatap ia lekat sepekat dingin yang menggeliat diantara ruangruang penuh aroma entah.
Lalu ia tersenyum…
Tapi aku masih terdiam menatapnya, terlalu lama dan bisu. Tibatiba ia menyentuh pipiku hingga kutersadar air mataku telah meningkahi gemerincingnya air kali. Mengalir, menjauh hingga taklagi dapat kusentuh.
Ia masih saja tersenyum…
Sedang aku ingin merajamnya hingga taklagi bisa kueja dalam kata, dalam syair, dalam segala yang berupa makna. Aku ingin membakarnya, melahap abunya hingga taklagi bisa ia menertawaiku dalam senyumannya.
Tapi ia hanya sekeping hening yang menungguiku terkapar oleh luka di atas sebuah batu besar pada tepian kali yang airnya mengalir bersama air mataku.
Aku…
Dan hening…
Jakarta, 21 Maret 2011