Aku adalah segenggam pasir yang tekpernah lebih sendu dari tetesan embun, yang bertutur tentang aroma secangkir kopi panas ketika pagi belum sempurna menyambut datangnya matahari.
Aku adalah segenggam pasir yang takpernah lebih indah dari sebentuk diam yang lindap, yang menuliskan sebait sajak mewakili sebuah enggan dalam hasrat serupa garis bayang gelap yang gelapnya takpernah lebih hitam dari pekat.
Aku adalah segenggam pasir yang takingin terbakar panas matahari atau beku oleh dinginnya malam ketika kau ada, ketika kau tiada. Hadirmu hanyalah saat kau ada dan hilangmu hanyalah saat kau tiada. Antara ada dan tiadanya engkau bukanlah ada dan tiadanya diriku.
Aku ada dan memintamu ada…
Aku ada dan memintamu tiada…
Tapi engkau takkan pernah bisa memintaku untuk ada, untuk tiada…
Aku yang hanya segenggam pasir ini, takkan pernah kau temukan ketika aku telah membaur bersama pasirpasir di pantai..
Saat itulah…
Aku hilang…
Taklagi segenggam pasir…
Aku adalah sebuah rahasia… bagimu…
Jakarta, 4 Desember 2010
hmm nice post…
Aku suka banget ma puisi ini.