Satu
Hari ke sekian pada musim yang hampir habis, senja mulai mencatat sebuah kisah tentangmu sebelum malam menggantikannya untuk beristirahat dalam naungan bulan yang malumalu.
Engkau sengaja berbaring dalam ruang remang cahaya dengan mata yang sesaat berkedip, dan saat yang lain terpejam dalam hitungan detik ditemani nafas yang tertahan untuk kemudian kau hempas perlahan. Kau bebaskan pikiranmu sebebas yang kau mampu, menelusuri detik perdetik ketika matamu terbutakan dan telingamu tertulikan oleh segala warna yang kau kira takpernah abuabu.
Di luar mungkin langit pucat dan dingin seperti raut wajahmu dalam siraman remang cahaya. Sepasang matamupun taklagi seperti bianglala, bahkan sama, pucat dan dingin. Masih berbaring, engkau punguti setiap potongan puzzel yang terserak dalam rekam memorimu. Segala yang bisa kau sentuh, kau dekap, juga segala yang berontak dan melindasmu.
Dalam segala rasa yang berbaur dalam dirimu, engkau bangkit dan mulai menyusun potonganpotongan puzzel itu hingga bisa kau baca apa yang tergambar nyata di kepalamu. Sejenak kau terdiam ditemani suara jarum jam yang berdetik, lalu…dengan tegas kau berkata, “SUDAH..!! Semua harus berhenti di sini. SEKARANG..!!”
Dua
Sang surya belum sepenuhnya ditelan laut. Ia masih bercengkrama bersama gelombang yang tetap riang meski gelap sebentar lagi menghitam pekat. Aku masih berdiri menanti sang surya benarbenar dalam dekapan laut.
Kuhirup nafas dalam ketika segala apa yang kau ucapkan begitu riuh berkejaran dalam kepalaku. “Kamu sudah gila”, katamu. Ya aku memang gila. Menjadi gila oleh warna yang kukira takpernah abuabu.
Senja itu engkau memaksaku untuk mengakui segala yang selama ini kuingkari. Engkau memaksaku hidup dalam kenyataan. Sebuah kenyataan bahwa aku memang telah menjadi gila. Sedemikian gila hingga yang ada dalam otakku hanya apa yang kumaui dan yang kuanggap iya. Sedemikian gila hingga mataku terbutakan oleh anggan sedang kenyataan sudah benarbenar nyata di depan mata. Sedemikian gila hingga telingaku tertulikan oleh prasangka sedang suarasuara begitu jelas bergema. Setelah tahu semua itu lalu untuk apa diteruskan?
Sebentar lagi sang surya benarbenar hilang tapi aku masih ingin ditemani debur ombak dan hempasan angin yang nyata sangat tidak lembut. Jadi aku masih di sini. Menyiapkan langkah meninggalkan segala kegilaanku.
Jakarta,
Akhir Maret – Awal April 2011
Sendiri…. dan riuhnya semesta tak mampu ku rasai.
Oson : makasih ya masih mau maen ke rumah ilalang