Ini adalah sepengal kisah hidupku yang indah…
Aku lahir di sebuah desa di Lampung Tengah. Menuntut ilmu di SDN III di desaku, sedang SMP dan SMU di sekolah swasta terdekat dari rumah. Kira-kira 30 menit jalan kaki. SMP dan SMU berada dalam satu kompleks (satu yayasan). SD berada di sebelahnya. Jadi dalam kurun waktu selama itu, aku takpernah keluar “kandang”.
Sejak masih di bangku SMU, aku sudah punya satu tekad sederhana : “lulus SMU harus meninggalkan Lampung”. Akhir Mei 1998 dengan diantar bapak, kutinggalkan Lampung menuju Yogyakarta. Kuikuti jejak kakak perempuanku yang hijrah ke Yogyakarta. Aku memang tidak seberuntung dia yang berhasil masuk universitas negeri melalui jalur PBUD. Meski tidak pede mengikuti UMPTN (maklum dari kampung githu lho…), kuikuti juga tes itu. Dan hasilnya GAGAL.
Kemudian aku mengambil Program D III di universitas yang sama. Yang terpenting saat itu bukanlah jurusan apa yang aku ambil tetapi bagaimana berhasil masuk ke universitas itu. Dan setelah memprediksi kemungkinan2nya, akhirnya aku mendaftar pada jurusan Kearsipan. Saat itu sama sekali aku tidak paham apa itu kearsipan (sekali lagi, harap maklum…sekolahan ndeso tidak memperkenalkan itu). Bersyukur aku bisa lolos tes. Tahun 1999 aku coba ikut UMPTN lagi dan gagal lagi.
20 Agustus 2001 aku wisuda tanpa kehadiran orang tuaku. Ketiadaan biaya membuat beliau tidak bisa datang. Agak sedih juga sih, tapi masih ada kakakku yang menemani.
Aku tinggal di Yogyakarta selama 7 tahun. Selesai kuliah sempat bekerja sebagai staff administrasi Yayasan PATRA-PALA, LSM dibidang ekowisata selama 3,5 tahun. Sisanya freelance. Sempat mencoba merintis homeindustry tetapi gagal.
Pada 13 Agustus 2005 kutinggalkan Yogyakarta menuju Pakujaya-Tangerang, untuk numpang tinggal di rumah kakakku (yang saat itu sudah menikah). Setelah diberi kesempatan hampir 1,5 bulan beristirahat (baca : nganggur), pada akhir September 2005 aku diterima bekerja di Konsorsium Reformasi Hukum Nasional (KRHN), LSM dibidang hukum di Jakarta Pusat.
Oktober 2008, seorang teman memberitahukanku adanya lowongan CPNS di Komisi Yudisial. Tanpa ketertarikan penuh menjadi PNS, aku buka juga website KY. Ternyata persyaratannya cukup mudah. Saat pengumuman seleksi administratif kuketahui bahwa aku adalah satu-satunya pelamar untuk jabatan Arsiparis. Dari beberapa rangkaian tes yang harus dilalui hingga pengumuman final ternyata nomorku selalu ada.
Aku sangat bersyukur karena sebenarnya sejak dulu orangtuaku menginginkanku jadi PNS tapi aku belum tertarik. Bertambahnya usia dan pertimbangan kemampuan bidang kerja yang kumiliki (hanya) sebagai administrator dan arsiparis-lah yang akhirnya membuatku memutuskan mendaftar sebagai CPNS. Dan terhitung mulai 2 Januari 2009 aku bekerja di kantor baruku.
Dan semua ini adalah kehendakNya yang sangat kusyukuri…..
Izinkan ku tinggalkan jejak langkah di sini
jejak langkahku jg sempat singgah di Jogja lho…
yang tertinggal hanyalah apa yang pernah kita tinggalkan, tak kurang tak lebih.. kita yang menentukan apa yang akan kita tinggalkan, waktu hanya mencatat saja
Alhamdulillah… tahun baru, jejak langkah baru juga ya… Selamat mengabdi di KY!
sama sepertiku menjadi PNS terlebih karena dorongan orang tua
tapi doa orang tua adalah pepujan kang dadi pepadhanging dalan, pangestu kang handayani laku
Ibu dan Ayah Lajering Urip Pancering Allah
mba, kok blogroll presty belom ada??
Kapan cuti main ke bali donk