Feeds:
Tulisan
Komentar

Sesuatu Itu…

Di rumah ini aku pulang. Kurebahkan tubuhku di lantai dan pandangi langitlangitnya sesaat kemudian terpejam. Kuhirup nafas dalam agar taklagi sesak mendekam di dada. Di luar, tlah kutinggalkan sesuatu yang membuatku resah. Aku takmau membawanya masuk. Aku ingin larut dalam keheningan rumahku.

Sesuatu itu telah membuatku taklagi dapat memilih apa yang tepat kulakukan ketika pengertian yang kupinta begitu saja terabaikan. Ketika kepedulian yang kusuguhkan takberbuah syukur tapi justru membuai, melenakan…

Aku merasa letih dan sedang takingin memikirkannya. Hanya berharap saat kubuka pintu rumah ini esok pagi, resah itu taklagi ada. Tapi entah ia rela pergi atau tetap tinggal di luar untuk menyambutku. Aku taktahu. Biarlah kudapatkan jawabannya esok hari. Sekarang biarkan aku bermimpi…

Jakarta, 3 Desember 2008

Perpisahan

Di luar malam beredar berteman gerimis tipis
Di laut ombak menepi membanting diri pada karang
Dan kapalkapal raungkan kembara hati karam
Isyaratkan sepetak gambaran jiwa mendung diujung tahun
Kala terobrakabrik oleh jabat oleh peluk yang mesti terlepas
Tersekat…

Segala kisah usah terasingkan
Bila berupa tangis atau goda
Terlebih tawa dan sukacita
Karena tegursapa itu biar tetap ada
Saat terdampar di pulaupulau kesendirian

Oh…takmudah wariskan kata
Bila yang tertinggal hanya sepatah saja
perpisahan

(Jakarta, 21 Nopember 2008 )

—-
Kepada Kawan Yang Akan Pergi
Oleh : Ratnaningsih DH

Ingatkah engkau pada hari penuh tawa,
Ingatkah engkau pada suasana hangat saat bersama,

Ingatkah engkau kala kita menangis berdua,
Ingatkah engkau terkadang kita bergosip belaka,

Ingatkah engkau pada kawan yang menggoda,
Ingatkah engkau pada hati yang kecewa,

Jika tidak,
Ingatlah seorang kawan yang menunggumu untuk ingat

(dalam harihari terakhir sebuah kebersamaan selama 3 tahun: makasih Ratna…)

PELANGI

Setiap detik lahir menelan sang waktu hingga siang pun tiba menggantikan pagi yang takhangat. Sekian lama dan sepantun suara takjua singgahi kita. Hujan turut juga tiba. Mengurung kita tetap tinggal meski waktu takikut terkurung hujan, ia terus saja melaju. Tak peduli pada kita yang masih saja saling membisu. Kau telan sendiri katakatamu. Aku telan sendiri katakataku. Kita masih saja tak berkatakata.

Lanjut Baca »

Kos Baru

Ruangan ini berukuran 3 x 3,5 m dan berada di lantai 2. Dindingnya berwarna hijau, memiliki dua pintu. Satu pintu masuk dan satu pintu untuk ke teras belakang (tapi sebenarnya justru menghadap ke depan. Bingung ya…?). Terhitung sejak Minggu, 26 Oktober 2008, inilah kos baruku. Ada banyak bunga di sepanjang pagar teras belakang ini. Tetumbuhan tersebut menjadi pelengkap kenyamanan untuk bersantai sambil memandangi senja atau sekedar merenungi mimpi-mimpi yang belum juga tergapai.

Lanjut Baca »

Bohong

Sepenggal sanggahmu lagilagi berkobar
Bawa gemuruh

Taklagi percaya
Karena semua tlah biasa

Sepenggal sanggahmu..
Ah…muak kudengar

Cukup begini saja
: Selamat tinggal !!

(Jakarta, 29 Oktober 2008 )

Kearsipan

KEARSIPAN
(Rangkuman beberapa pengertian dan hal-hal terkait dengan Kearsipan)

Yang dimaksud dengan kearsipan adalah segenap kegiatan yang berhubungan dengan masalah arsip, yang terdiri dari kegiatan penerimaan, pengumpulan, pemeliharaan, pengaturan, pengawasan, penyusutan dan penyimpanan.
[Ig. Wursanto, Kearsipan I (Yogyakarta : Kanisius, 1991), hal. 104]

Lanjut Baca »

PUTUS (2)

Sepasang binar mata karang terenggut dari pelukan
Dan kerjap sipu taklagi merayu
Ia terpanggang di bara duka
Muram menyinggung, ia meradang
Dunia kehabisan warna

Pada dedaun gugur terlepas tanya
Bila rindu jingga meluntur samudra
Sewangi apa mimpi tersisa?

Ah..!!

Pinta hati terbebas gulita..

( Jakarta, 20 Oktober 2008 )

Sebuah Pilihan

Aku terdiam di sudut ragu. Sekian waktu belajar menjaga hati dari segala rasa yang mungkin bisa buatku terlindas. Entah sebuah ketakutan atau ketidakmampuan. Aku tak bisa mengartikannya. Menghindari ataupun mengikuti, keduanya tak mungkin tidak memberiku luka. Aku, juga semua orang yang telah disinggahinya, pasti merasakan luka itu. Aku juga tahu, tak bisa menghindarinya, hanya saja, sungguh tak kuingin ada bekas tertingal bila hanya berupa luka.

Lanjut Baca »

PUTUS (1)

Hati teraduk
Tawa taklagi beriak
Dan harihari pun meluncur sendat

Sejak kau lenyap….
Segulung rasa yang linu
Bersarang di hatiku

(Jakarta, 19 Oktober 2008 )

« Newer Posts - Tulisan Sebelumnya »